Skip to main content

Mengapa Saya Belum Juga Membeli Nintendo Switch?

(image source: waypoint.vice.com)

Nintendo Switch adalah salah satu console game yang paling saya tunggu-tunggu tahun lalu, tapi kenapa saya belum membelinya sampai sekarang? Alasan saya mungkin juga bisa jadi bahan pertimbangan kalian yang sedang memikirkan untuk membelinya atau tidak.

Sebenarnya, console Nintendo paling pertama saya adalah Nintendo 3DS XL yang saya beli tahun 2014 lalu. Semata-mata saya beli karena ingin memainkan game Bravery Default. Dan setelah game tersebut selesai, hampir tidak ada game lain yang membuat saya tertarik. Paling-paling hanya Fire Emblem Awakening, karena battle system-nya yang seru. Lain dari itu semua, tidak ada yang benar-benar membuat saya tertarik.

Sejujurnya kalau masalah console saya lebih suka dengan Playstation, dari kecil itulah satu-satunya console yang saya tahu. Dan cinta saya sampai saat ini masih dimiliki oleh Playstation 4. Tidak ada console handheld saya yang awet, setelah setahun-dua tahun, akhirnya saya jual karena jarang dimainkan. Saya lebih suka main console di rumah yg disambungkan ke layar. Because why would you play video games outside your house? Except if you are in a plane, I can understand that.

Sisi menarik dari Switch menurut saya adalah fiturnya yang bisa menjadi handheld dan console rumah. Belum lagi VGA nya yang disupport oleh Nvidia. Akan sangat berguna ketika perjalanan jauh, misalnya naik pesawat, daripada bosan dan tidak bisa tidur ketika mengantuk, lebih baik main game. Serunya juga, Switch memiliki multiplayer, bisa dimainkan bersama teman.

Jadi, apa pertimbangan saya?

Pertama, harganya yang masih sangat mahal. Baru pertama kali keluar di Indonesia, Switch dibandrol harga sekitar 6-7 juta rupiah. Sama seperti Playstation 4 beberapa tahun yang lalu. Belajar dari pengalaman, ada baiknya untuk tidak buru-buru membeli console yang baru dirilis. PS 4 saya sempat menganggur 1 tahun lebih. Sempat keluar masuk penggadaian, hingga akhirnya hilang ketika game yg ingin saya mainkan sudah ada. Akhirnya harus membeli lagi, untungnya harganya sudah murah.

(image source: gamespot)

Kedua, ketersediaan game yang masih kurang. Game Switch kebanyakan masih game-game lama. Yang baru paling-paling baru satu, The Legend of Zelda. And I’m not a Zelda fans. So yeah, it’s another turn off for me. Bahkan Skyrim yg ingin saya jajal juga sudah ada di PS4, saya tetap bisa memainkannya tanpa harus mengeluarkan uang jutaan.

Ketiga, lebih baik bersabar sedikit. Berdasarkan perkiraan dari pengalaman, idealnya ketika membeli console baru adalah 1-2 tahun setelahnya. Ketika awal membeli belum terlalu banyak game yang bisa dimainkan atau menarik perhatian. Harga juga mahal, nanti bisa turun 20%. Lebih baik bersabar sedikit, jangan terlalu terburu-buru.

Saya tahu banyak fans Nintendo di luar sana yang sangat kritis, jadi bijaknya saya akan mengakhiri blog ini dengan mengingatkan bahwa ini adalah opini saya pribadi.


KYRIEX

Comments

Popular posts from this blog

GOT Fan Theory: Jon Snow BUKAN Azor Ahai? ini Alasannya

Akhirnya season 7 dari Game of Thrones telah selesai dan kita harus menunggu lagi untuk season selanjutnya. Tapi saya di sini bukan untuk mereview season 7 GOT, melainkan membagikan teori saya untuk series yang menarik ini. Maklum guys...fans baru. Masih sangat hype. Anget. lol.
Anyway, saya mungkin akan mereferensi episode dari season sebelumnya, jadi yg belum menonton dan tidak ingin terkena spoiler, sebaiknya menyingkir dulu. Nanti kembali lagi setelah kalian sudah menonton dan ingin mendengar teori saya selagi menunggu season GOT selanjutnya.

Okeh. Kita mulai ya. Jadi seperti yg para penonton sudah tahu, GOT adalah cerita fantasi yang melibatkan, naga, zombie, dan elemen-elemen fantasi lainnya, salah satunya adalah ramalan. Ada ramalan yang paling di kenal di serial ini, yaitu "the prince (or princess) that was promised" atau disebut juga sebagai Azor Ahai. Tarik balik ke masa lalu, dalam sejarah GOT sebelum cerita series ini di mulai, musim dingin datang disertai malam …

Review Film Wonder Woman: Bagus atau Mengecewakan?

Wonder Woman guys, akhirnya tayang... Pasti banyak dari kalian yang sudah menonton. Mungkin ada juga yang masih trauma dengan film DCEU (DC Extended Universe) sebelumnya, Batman v Superman dan Suicide Squad. Memang, Suicide Squad yang kemarin benar-benar mengecewakan, tapi BvS saya rasa memang agak mixed review. Dan sekarang Wonder Woman apakah bisa menjadi penyelamat film DCU sebelum kita masuk ke Justice League?

Kisah film ini mengambil setting yang jauh ke belakang, ini adalah film perkenalan kita para penonton dengan karakter Wonder Woman atau Diana Prince (Gal Gadot). Di sebuah pulau terpencil, tertutup dari dunia luar, Diana dibesarkan oleh ibu-nya. Mereka adalah para pejuang Amazon, bertugas untuk menghancurkan Dewa Perang, Ares. Tapi manusia sudah semakin jahat dan terpengaruh oleh nafsu serta keburukan, sehingga ibu Diana tidak memperbolehkan anaknya untuk keluar dari pulau itu, apa lagi belajar bertarung. Pada akhirnya Diana dilatih diam-diam oleh Antiope, hingga ia menjadi …

Review Film Anti Matter (2017)

Sci-fi dan suspense? Ide yang menarik. Walau kedua genre ini sering diangkat dalam film, namun tidak banyak yang sukses mengeksekusinya. Sebuah film semi-indie, Anti Matter, bisa dibilang cukup sukses mengeksekusi gabungan kedua genre tersebut. Sebenarnya saya tidak yakin bila film ini sepenuhnya film Indie, karena kualitasnya cukup pro, tapi tidak terlalu pro untuk dibilang film produksi studio ternama.
Ana dan kekasihnya, Nate, adalah mahasiswa Phd di Oxford yang sedang melakukan eksperimen untuk menciptakan wormhole, mereka sangat dekat dengan kesuksesan mereka, namun terhambat oleh dana. Liv, seorang ahli komputer sekaligus ilmuwan, diundang untuk masuk dalam percobaan mereka. Liv membantu Ana dan Nate mengumpulkan dana untuk percobaan tersebut dengan menciptakan worm komputer untuk mengumpulkan sepeser uang dari setiap komputer yang terinfeksi demi mendanai eksperimen tersebut. Eksperimen tersebut semakin berkembang dan mereka mulai melihat banyak kemajuan.
Percobaan yang awalny…