Skip to main content

Dimana "Death Note" versi Netflix Gagal Sebagai Film?


Begitu banyak kritik tentang film ini sebelum rilis. Banyak yang tidak suka dengan casting pemerannya karena semua karakter adalah orang barat, which is make sense, karena ini adalah adaptasi Amerikanya. I have some problems with this movie, but there are also some elements that I like. What are they? Let's begin.

Death Note diangkat dari manga Jepang berjudul sama. Di negara asalnya, cerita ini sangat fenomenal dan mengguggah pikiran penontonnya dengan mengangkat cerita bertemakan "keadilan". Apa sebenarnya keadilan itu? Y'know... keadilan biasanya dikaitkan dengan hukuman kan? Apa jadinya bila seseorang memiliki kuasa atas hidup dan matinya orang lain, seperti Tuhan.

Light Turner (diperankan oleh Nat Wolff) menemukan sebuah notebook yang memiliki kuasa untuk mengambil nyawa manusia. Nama orang yang ditulis dalam buku itu akan mati, lengkap dengan cara mereka mati, dan lain sebagainya. Seperti dewa kematian begitulah, kalau kalian punya Death Note ini. Light melihat ketidakadilan disekitarnya, jadi ia bermain sebagai Tuhan, untuk membawa keadilan di Bumi.


Okeh, langsung saja ke review.

Saya menonton versi live-action Jepang Death Note ketika masih duduk di bangku SMP. Jadi sudah lupa-lupa ingat, tapi banyak yang ingat karena waktu itu saya sangat terobsesi dengan film aslinya dari Jepang sana. Ada banyak elemen surprise yang diberikan, pola pikir Light yang menarik menjadi salah satu kunci utama mengapa kisah ini begitu disukai oleh fans. Kemudian kehadiran detektif super nyentrik seperti L juga mewarnai cerita. Tapi, itu pujian saya untuk film live-action versi Jepang ya, bukan yang ini.

Saya tidak punya masalah dengan "whitewashing" yang membuat film ini begitu banyak dibicarakan di internet sebelum tayang. Saya juga tidak bisa dibilang setuju dengan castingnya. Mungkin yang ingin saya kritik di sini adalah penulisan ceritanya yang gagal total.

Pertama, cerita ini adalah adaptasi. Akan selalu ada masalah dengan cerita adaptasi. Tidak akan ada yang sempurna dari cerita yang diangkat ke medium lain, apalagi dari buku ke film, dari film di negara asli, ke film di negara lain. Perbedaan budaya yang membentuk cerita tersebut tentunya juga harus bergeser. Oleh karenanya, akan sangat susah untuk setia pada sumber aslinya. Dengan mengerti hal itu, saya membuka pikiran tentang apa yang akan terjadi pada adaptasi Netflix ini, yang notabene nya adalah perusahaan dari Amerika, dan tentunya mereka akan menyesuaikan cerita ini ke budaya mereka.

Masalahnya, cerita dalam film ini terlalu terburu-buru, membuat tidak jelas alurnya. Tema dari kisah Death Note adalah "keadilan" tapi tidak begitu terasa dalam film ini, yang terasa malah romance nya. Jelas bagi saya mengapa film Jepangnya sampai menghabiskan durasi 2 jam untuk bisa memuat semua aspek dalam cerita. Bagaimana mereka bisa memadatkan sebuah cerita yang sangat luas bila hanya diberi durasi 95 menit? Pastinya tidak cukup. Apalagi mencoba mem-provoke pikiran orang tentang acuan moral atas tindakan Light yang membunuh penjahat, serta berubahnya dia menjadi penjahat itu sendiri, tentunya butuh waktu untuk melihat perubahan itu terjadi dalam diri suatu karakter agar menjadi kompleks. Dan kesalahan film ini lagi-lagi pada penulisan screenplay nya dari awal, tidak ada ruang bernapas. Semuanya terburu-buru, dikejar deadline durasi.

Belum lagi, menangkap KIRA (nama samaran Light) bukanlah hal yang mudah, bahkan untuk detektif jenius seperti L. Saya sudah lupa-lupa ingat sih, bagaimana dalam film live-action Jepang L menyimpulkan bahwa Light adalah penjahat, tapi saya yakin sekali, metodenya tidak segegabah L dalam film Death Note versi Netflix. Karakter L yang diperankan oleh aktor kulit hitam, Lakeith Stanfield sangat buruk. Bukan karena akting pemain, tapi karena penulisan dari screenplay nya sendiri saya yakin sudah SANGAT BURUK dari awal. Beberapa poin yang karakter ini tuduhkan pada Light juga jadi tidak masuk akal. Bagaimana seorang detektif bisa menggeledah rumah orang tanpa surat perintah dan menuduh orang sembarangan tanpa tahu barang bukti atau metode pembunuhan? Itu kan aneh....


Kemudian cerita Light dan Mia yang jadi super romance dan fokus dari cerita ini untuk 70% adegan. What the hell.... i mean, seriously... Cerita kriminal masa jadi berasa Young Adult roman picisan begini??? 


Sasaran pasar juga tidak jelas. Kalau memang film ini untuk para fans cerita aslinya--karena begitu cepatnya L bertemu dengan Light--film ini malah jadi mengecewakan banyak fans. Kalau memang film ini ditujukan untuk orang yang belum tahu apa itu cerita Death Note, kenapa pace nya cepat sekali??? Jadi, paling-paling ini hanya untuk cari sensasi? Hanya Tuhan dan yg menerima uang penjualan film ini saja yang tahu.

Kalau boleh dibilang, saya suka dengan bagian akhirnya saja, tapi tanpa soundtrack tidak jelasnya itu. Saya suka bagaimana Light menjabarkan rencana terakhirnya dan bagaimana semua rencana itu berjalan sesuai dengan kehendaknya. Setidaknya ada kualitas dari karakter Light diakhir cerita yang cukup berkesan. Selebihnya, nol besar. Kalau tidak kepepet lebih baik tidak usah nonton. Film ini hanya menang sensasi, tapi salah dari segala sisi. Gagal total sebagai adaptasi, dan sebuah film.


DAN BTW, ADALAH SEBUAH DOSA, KALAU SAYA TIDAK MENGAKU SAYA JATUH CINTA PADA MIA.


MY GOOD LORD SHE'S GORGEOUS.

KYRIEX.


Comments

Popular posts from this blog

GOT Fan Theory: Jon Snow BUKAN Azor Ahai? ini Alasannya

Akhirnya season 7 dari Game of Thrones telah selesai dan kita harus menunggu lagi untuk season selanjutnya. Tapi saya di sini bukan untuk mereview season 7 GOT, melainkan membagikan teori saya untuk series yang menarik ini. Maklum guys...fans baru. Masih sangat hype. Anget. lol.
Anyway, saya mungkin akan mereferensi episode dari season sebelumnya, jadi yg belum menonton dan tidak ingin terkena spoiler, sebaiknya menyingkir dulu. Nanti kembali lagi setelah kalian sudah menonton dan ingin mendengar teori saya selagi menunggu season GOT selanjutnya.

Okeh. Kita mulai ya. Jadi seperti yg para penonton sudah tahu, GOT adalah cerita fantasi yang melibatkan, naga, zombie, dan elemen-elemen fantasi lainnya, salah satunya adalah ramalan. Ada ramalan yang paling di kenal di serial ini, yaitu "the prince (or princess) that was promised" atau disebut juga sebagai Azor Ahai. Tarik balik ke masa lalu, dalam sejarah GOT sebelum cerita series ini di mulai, musim dingin datang disertai malam …

Review Film Wonder Woman: Bagus atau Mengecewakan?

Wonder Woman guys, akhirnya tayang... Pasti banyak dari kalian yang sudah menonton. Mungkin ada juga yang masih trauma dengan film DCEU (DC Extended Universe) sebelumnya, Batman v Superman dan Suicide Squad. Memang, Suicide Squad yang kemarin benar-benar mengecewakan, tapi BvS saya rasa memang agak mixed review. Dan sekarang Wonder Woman apakah bisa menjadi penyelamat film DCU sebelum kita masuk ke Justice League?

Kisah film ini mengambil setting yang jauh ke belakang, ini adalah film perkenalan kita para penonton dengan karakter Wonder Woman atau Diana Prince (Gal Gadot). Di sebuah pulau terpencil, tertutup dari dunia luar, Diana dibesarkan oleh ibu-nya. Mereka adalah para pejuang Amazon, bertugas untuk menghancurkan Dewa Perang, Ares. Tapi manusia sudah semakin jahat dan terpengaruh oleh nafsu serta keburukan, sehingga ibu Diana tidak memperbolehkan anaknya untuk keluar dari pulau itu, apa lagi belajar bertarung. Pada akhirnya Diana dilatih diam-diam oleh Antiope, hingga ia menjadi …

Review Film Anti Matter (2017)

Sci-fi dan suspense? Ide yang menarik. Walau kedua genre ini sering diangkat dalam film, namun tidak banyak yang sukses mengeksekusinya. Sebuah film semi-indie, Anti Matter, bisa dibilang cukup sukses mengeksekusi gabungan kedua genre tersebut. Sebenarnya saya tidak yakin bila film ini sepenuhnya film Indie, karena kualitasnya cukup pro, tapi tidak terlalu pro untuk dibilang film produksi studio ternama.
Ana dan kekasihnya, Nate, adalah mahasiswa Phd di Oxford yang sedang melakukan eksperimen untuk menciptakan wormhole, mereka sangat dekat dengan kesuksesan mereka, namun terhambat oleh dana. Liv, seorang ahli komputer sekaligus ilmuwan, diundang untuk masuk dalam percobaan mereka. Liv membantu Ana dan Nate mengumpulkan dana untuk percobaan tersebut dengan menciptakan worm komputer untuk mengumpulkan sepeser uang dari setiap komputer yang terinfeksi demi mendanai eksperimen tersebut. Eksperimen tersebut semakin berkembang dan mereka mulai melihat banyak kemajuan.
Percobaan yang awalny…